![]() |
| Dokumentasi Pelepasan Jenazah Pahlawan Revolusi |
Kronologis Singkat Peristiwa G30S.
Sukarno & PKI Dalang Pembunuhan Para Jenderal di Lubang Buaya.
Peristiwa G30S berawal dari informasi yg dibawa oleh Subandrio dari Mesir pada tanggal 15 Mei 1965 tentang adanya Dewan Jenderal (Dokumen Gilchrist). Lalu Sukarno menanggapi dgn serius karena bisikan PKI/Aidit sbg penasehat. Pada tanggal 26 Mei 1965, Sukarno memanggil para Menteri Panglima Angkatan untuk meminta kejelasan tentang adanya Dewan Jenderal. Pada kesempatan ini, Letjen Ahmad Yani selaku Menpangad dgn tegas menyatakan bahwa Dewan Jenderal tidak ada, yang ada adalah Dewan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yg bertugas memberi masukan atau pendapat kepada Menpangad tentang kepangkatan dan jabatan Perwira Tinggi di tubuh angkatan darat. Bahkan Jenderal Nasution juga memastikan bila Dewan Jenderal memang tidak ada. Merasa kurang puas dgn penjelasan Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution, Sukarnopun berusaha mencari kejelasan lebih lanjut. Sukarno memberi perintah pd Brigjen Sjafiudin untuk mencari tahu nama2 yg dimaksud, lalu didapat 9 nama.
Ke 9 nama yg disodorkan Brigjen Sjafiudin
adalah
1 Jenderal AH Nasution (Menko
Pangap/KASAB),
2 Letjen Ahmad Yani (Menpangad),
3 Mayjen R Soeprapto (Deputy II Menpangad)
4 Mayjen MT Haryono (Deputy III Menpangad)
5 Mayjen S Parman (Asisten I Menpangad
bidang Intelejen)
6 Mayjen Djamin Ginting (Asisten II
Menpangad bidang Operasi)
7 Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV
Menpangad bidang Logistik)
8 Brigjen Sutoyo (Inspektur Kehakiman AD)
9 Brigjen Sukendro (Asintel Mayjen S Parman).
Akhirnya Sukarno memberi sinyal untuk
menindak mereka tapi bulan berganti bulan tak ada perkembangan. Lalu atas
bisikan PKI, Sukarno menemukan ide yg dianggapnya cemerlang (menurut pikirannya
berdasarkan pengalaman Lenin, Stalin, Mao Tse). Lalu Sukarno memberi tender
kepada Letkol Untung (berdasarkan rekomendasi Brigjen Sabur), untuk menindak
para Jenderal. Ditentukan tanggalnya & dipilih bulan Oktober dgn alasan
ingin mensejajarkan diri dgn Sovyet & China yg sdh lebih dahulu terkenal
dgn Revolusi Oktobernya. Bahkan dalam beberapa kesempatan Sukarno selalu
menyebut peristiwa G30S dgn istilah “GESTOK”. Sukarno menolak penggunaan
istilah Gestapu atau G30S.
![]() |
| Suasana Pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi |
Sesuai perencanaan, Operasi penindakan para
jenderal mulai dijalankan. Supply persenjataan diperoleh dari Marsekal Oemar
Dhani yg merupakan Menpangau waktu itu. ( TNI AU baru melaporkan kehilangan
senjata setelah senjata2 tsb disita lewat pertempuran di wilayah Lubang Buaya).
Berdasarkan kesaksian keluarga para jenderal yg menjadi korban, ternyata pada
malam kejadian telepon selalu bordering tiap jam hanyak untuk menanyakan
keberadaan para jenderal, apakah ada di rumah atau tidak. Pada dini hari pukul
4.00 Wib operasi penindakan para jenderal pun dijalankan. Satu persatu para
jenderal diculik dari rumah mereka masing-masing. Namun operasi penindakan para
jenderal ini Gagal Total karena ternyata Nasution berhasil meloloskan diri. .
Walau tahu kalo operasi penindakan para jenderal Gagal, namun operasi tetap
dijalankan. Pada pagi harinya Letkol Untung mengumumkan berita sebaliknya
melalui RRI. Letkol Untung memberitakan kesuksesan Dewan Revolusi menghabisi
para jenderal yg dianggap menghalangi Revolusi yg dicanangkan Sukarno.
Pengumunan ini ternyata mendapat sambutan diberbagai daerah, seperti Jogjakarta,
dimana Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono diculik dan dibunuh. Bahkan
dibeberapa daerah, para anggota PKI & simpatisan PKI mulai menebar ancaman
yg membuat rakyat menjadi kian ketakutan.
Dalam persembunyiannya, jenderal Nasution
mengakui kalo dirina merasa gamang dlm menentukan siapa kawan dan siapa lawan
yg sebenarna. Akhirnya Nasution memilih KOSTRAD sbg tempat berlindung walau
diketahui sebetulnya sbg Benteng Pengendali Keamanan Ibukota adalah KODAM JAYA.
. Menjelang sore sekitar pukul 4 lewat akhirnya jenderal Nasution masuk ke
Markas KOSTRAD. Jenderal Nasutionpun memberi perintah kepada Mayjen Suharto
untuk mengambil alih komando TNI AD dan mengendalikan situasi. Menindak lanjuti
perintah jenderal Nasution, Mayjen Suharto mengirim telegram ke seluruh Kodam
memberitahukan tentang selamatnya jenderal Nasution dan memerintahkan untuk
bersiaga penuh. Mayjen Suhartopun memberi perintah kepada Kolonel Sarwo Edhie
untuk segera merebut RRI & menguasai Halim (daerah Lubang Buaya yg
merupakan tempat pelatihan militer para Pemuda Rakyat). ). Sejarah mencatat,
dari 3 Menteri Panglima yg tersisa hanya Menpangal Laksamana RE Martadinata yg
menjenguk Jenderal Nasution saat berada di Kostrad pasca kejadian. Usai
mendengar kesaksian Jenderal Nasuton, Laksamana RE Martadinata menyatakan sikap
TNI AL yg mendukung TNI AD untuk melawan PKI. Namun sayang, sikap ini justru
membuat karier militernya tamat, karena pada tgl 21 Februari 1966, Laksamana RE
Martadinata dicopot jabatannya sbg Menpangal.
![]() |
| Suasana Pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi |
Ternyata selamatnya Jenderal Nasution
menjadi blunder bagi Sukarno, apalagi saat ditangkap, Letkol Untung memberi
daftar 60 nama prajurit Cakrabirawa yg terlibat langsung. Harap diingat, pd
malam peristiwa Letkol Untung memberi memo kpd Sukarno saat seminar para
Arsitek. Setelah membaca memo tsb Sukarno menyelipkan ucapan yg dikutip dari
kisah Ramayana/Mahabrata tentang membunuh saudara kandung demi pencapaian
tujuan. Perlu diketahui, sehari sebelum peristiwa terjadi ternyata Sukarno sdh
menjanjikan posisi Menpangad kepada Mayjen Mursjid yg merupakan orang nomor 2
di Kemenpangad waktu itu. Mayjen Mursjid adalah Deputy I Menpangad yg tdk turut
menjadi target saat itu padahal Deputy II & Deputy III turut menjadi korban
saat itu.
Para Antek2 PKI yg berkedok Sukarnois
mencoba memelintir peristiwa G30S dgn mengabaikan “Selamatnya” Jenderal
Nasution. Padahal beliaulah yg membuat semua scenario Sukarno menjadi
berantakan. Lalu tindakan Sukarno yg justru mencopot jabatan Jenderal Nasution
dari jabatannya sbg Menko Pangap/Kasab, semakin memperkuat kecurigaan akan
keterlibatan Sukarno. Tindakan pencopotan ini seolah menunjukan kalo Sukarno
Gak Suka kalo Nasution berhasil selamat.
Pasca peristiwa pembunuhan para jenderal di
Lubang Buaya, situasi Eskalasi politik semakin memanas. Rakyat mulai turun
kejalan menuntut pembubaran PKI tapi Sukarno seolah tak bergeming membela
keberadaan PKI. Bahkan saat berpidato didepan Front Nasional tgl 13 Februari
1966, di daerah Senayan, Sukarno kembali dgn lantang memuji PKI dgn mengatakan,
“Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa
sebesar PKI”. Mendengar pidato Sukarno yang keukeuh membela PKI, tuntutan
mahasiswa dan rakyat semakin menguat untuk melengserkan Sukarno. Menghadapi
tuntutan mahasiswa dan rakyat yang semakin meluas, akhirnya Sukarno
mengeluarkan SP 11 Maret ditahun 1966, yang isinya memerintahkan Letjen Suharto
sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat untuk segera mengendalikan situasi dan
keadaan dengan mengambil tindakan yang dianggap perlu demi menjaga keamanan dan
kestabilan pemerintahan. Namun Sukarno cukup cerdik dengan menyelipkan perintah
untuk menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya. Sukarno menyelipkan perintah
untuk menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya dengan menyematkan berbagai
gelar yang disandangnya. Berdasarkan SP 11 Maret, Letjen Suharto mulai
mengadakan pembersihan atas unsure-unsur PKI di pemerintahan termasuk
menangkapi beberapa menteri dan pejabat yang terlibat PKI. Tindakan Letjen
Suharto mendapat kritikan dari Sukarno yang ditanggapi Suharto dengan memasang
dirinya sebagai tameng untuk menjaga nama baik Sukarno.
![]() |
| Jenderal AH Nasution, Sukarno & Jenderal Suharto |
Pasca terbitnya SP 11 Maret, situasi
keamanan Negara mulai terkendali. Gejolak demontrasi anti pemerintah mulai
mereda. Namun situasi kembali memanas saat Sukarno mengawini gadis belia, Heldy
Jaffar yang berusia 18 tahun dibulan Mei 1966. Perkawinan ini menjadi puncak
kemarahan rakyat dan menjadi bukti “Ketidak Pedulian” Sukarno terhadap kondisi
dan situasi Negara. Rakyat melihat ternyata Sukarno lebih mementingkan
kepentingan pribadinya dibanding kepentingan Bangsa dan Negara. Akhirnya
tuntutan rakyat dijawab oleh MPRS yang diketuai oleh Jenderal AH Nasution. Pada
bulan Juni 1966, Sukarnopun diseret ke SU MPRS untuk dimintai pertanggung
jawaban. Inilah awal kejatuhan Sukarno dimana 2 nota pembelaannya yang diberi
judul Nawaksara I dan II ditolak oleh MPRS. Mandat Sukarno sebagai Presidenpun
dicabut MPRS pada bulan Maret 1967. Selanjutnya MPRS memilih dan mengangkat
Letjen Suharto sebagai Plt Presiden. Terlukis kesan ketidak relaan di wajah
Sukarno atas pencopotan dirinya dari kedudukan Presiden.
![]() |
| Dokumentasi Pelantikan Jenderal Suharto |
Berdasarkan Tap MPRS no 33 tahun 1967, MPRS
memerintahkan kepada Plt Presiden, Jenderal Suharto untuk melakukan proses
hukum kepada Sukarno sesuai ketentuan hukum yg berlaku, namun Suharto hanya
mengenakan status Tahanan Rumah tanpa pernah berusaha mengajukan Sukarno untuk
diadili. Mikhul Dhuwur Mendhem Jero menjadi alasan Suharto agar Bangsa
Indonesia tdk memperlakukan Sukarno seperti pesakitan/pecundang. Sikap Suharto
ini dipertegas dgn pidatonya pd tahun 1968 didepan Sidang MPRS untuk lebih
mencurahkan tenaga & pikiran dlm menghadapi masa depan bangsa Indonesia.
Pada kenyataannya, Suharto memang tidak
pernah mengajukan Sukarno kedepan sidang pengadilan manapun. Malah sebagai
bentuk penghormatan, pada tahun 1986 Suharto memberikan gelar Pahlawan
Proklamasi kepada Sukarno & Hatta. Mendirikan Tugu Proklamasi untuk
menghormatinya serta menyematkan nama Sukarno-Hatta pada nama Bandara
Internasional Indonesia. Dan terakhir, Suharto menyematkan foto Sukarno-Hatta
pada lembaran uang kertas Rp.100.000,-
![]() |
| Beginilah Ekspresi Wajah Bung Karno Sesaat Setelah MPRS Mencabut Mandatnya sbg Presiden RI. |
Kronologis Kejadian G30S diatas ditulis
oleh beberapa mantan aktivis 66. Bagi yg merasa keberatan dgn kronologis
diatas, dimohon untuk menuliskan sebuah kronologis pembanding tapi dgn tidak melupakan
situasi selamatnya Jenderal Nasution yg berlindung ke Markas Kostrad waktu itu
dan memberi perintah kepada Mayjen Suharto untuk mengambil alih komando TNI AD
dan segera mengendalikan situasi. Bila tidak memasukan situasi selamatnya
Jenderal Nasution berarti itu bukanlah peristiwa G30S. Dipersilahkan untuk
memasukan semua asumsi dan tuduhan yg dialamatkan kepada pak Harto, tapi tetap
tdk boleh mengabaikan situasi selamatnya Jenderal Nasution.
SEMOGA KRONOLOGIS INI DPT MENJELASKAN
TENTANG PERISTIWA G30S THN ’65.
NB. Bila ada yg merasa keberatan dgn
kronologis diatas silahkan dibantah dgn cara menulis kronologis pembandingnya,
tapi dgn syarat untuk tidak melupakan 4 kejadian Fakta Sejarah ini.
1. Kejadian selamatnya Jenderal Nasution.
2. Kejadian Jenderal Nasution yg berlindung
ke Markas Kostrad.
3. Kejadian Jenderal Nasution menjadi Ketua
MPRS.
4. kejadian MPRS mencabut mandat Sukarno
sbg Presiden.
Berikut adalah Dokumentasi Demonstrasi Mahasiswa dan Rakyat yang menuntut agar Sukarno segera di adili dan di Mahmilubkan.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar